Teman.. (anggap saja demikian)
Perjalanan
nafas ini terus terhembus, pilar-plar waktu, mengejawantah tiap rasa yg
berbilang, tiap senyap yang berhilang. Rentetannya yang luruh sepanjang hari
menuai pengalaman. Ada juga tawa dan sedih yang berulang. Pun tentang seorang
teman yang hadir, yang mungkin datang untuk sekedar mengajari sesaknya
kehilangan. Bertemu untuk berpisah. Datang untuk pergi. Dan kali ini tentang
sahabat yang takkan kusematkan predikat “kanak2” disisi namanya,..yah meski
nyatanya, dia masih remaja. Usianya terpaut hampir sewindu dgnku. Tapi dia
adalah sahabatku, temanku, guruku.
Tak tau harus bercerita bagaimana, harus memulai dari mana, dan sebenarnya aku tak ingin bercerita aku hanya ingin berbagi rasa. Bahwa aku beruntung dipertemukan dengan sahabat seperti dia. Beragam warna pernah kupakai dalam kanvas pertemanan kami, bermacam2 rasa pernah jg kuteguk dari cawan persaudaraan kami. Lagi-lagi aku tak bisa bercerita banyak. Aku hanya merasa bahagia. Tentang janji-janji antara kita, tentang jauh yang memisahkan, tentang benci yang menggores2, tentang dia yg telah tiada, tentang waktu larut yg mempertemukan kita, tentang nafilah malam dipinggir jendela lantai tiga, tentang perpustakan yang kini tergembok, tentang rumah kayu, tentang bandara dan ubin abu2nya, tentang hafalanku yg tetatih, tentang hafalannya yg utuh, tentang perlawanan mereka dan pertahanan kami. Tentang banyak hal…sampai pada es krim 3 rasa yg mengganggu pencernaanku. Satu kalimat untuknya: “Aku tak ingin kita terpisah di syurga..”
Dengar.. tidak ada masa berkumpul yg abadi di dunia, tp tidak dengan akhirat, maka,,,jika di dunia setengah mati perpisahan itu harus membatasi jasad kita,, biar saja.. sebab sy pun punya harapan untuk bertemu dgnmu di sana, dgn ridhoNya..
Al-Adaab,
23/07/13
“dan..
rindu ini,, melangit lagi..”
Untuk arini
Tadi malam, kembali kumelihat wajah itu. Syukurku membahana dalam sujud. Semoga engkau senantiasa dlm keadaan baik. Hal yang memecah keheningan setelah itu, mudah-mudahan menjadi yang terakhir. Meski kau selalu sematkan do’a untuk pergi. Harapku tetap berbeda. Firasat yang kau harapkan tidak mesti sejalan dengan kehendakNya bukan. Maka bertahanlah, kau sedang mengumpul pahala. Untuk diriku, bersabarlah, kaupun sedang tertatih menujuNya. Kita semua akan pergi. Siapapun yang didahului, siapapun yg mendahului, garis-garis takdir adalah jalinan yang kokoh., pun sebenarnya harap yang kubangun dalam rajutan persaudaraan kita hanya tersisa satu. ridhoNya.
7 agustus 2013
friendship
Sudah
2 tahun, sejak ketiadaanmu disini..daun-daun kering itu semakin banyak saja.
Pun semakin menggemaskan untuk diremukkan. Digilas,bersama tawa dan celotehan
tak pentingmu saban petang. Hari ini, jejakku melintasi sastra, dan sospol
kebanggaanmu. Seperti kau masih ada disisiku, berjalan beriringan, bercerita
tentang apa saja. Meributkan hal-hal kecil, mendebatkan kemustahilan. Ini
tentangmu.dan sepertinya sekaligus tentang rinduku.
Emmh,,
mungkin tak mesti semelankolis ini lagi. Tapi jujur, pertemanan kita yang lama.
Tak mungkin bisa menjadi biasa-biasa saja saat kau sudah sedemikian jauhnya.
Pulau itu, kota itu. Asing bagiku, tak terpikir bahwa aku akan menemuimu di
sana. Yah..bukan untuk mengerdilkan posisiku sebagai akhwat yg harus kemana2 disertai
pengawalnya.mahram kata mereka. Aku hanya mencoba ta’at disaat-saat yg memang
tak memaksaku untuk melawan idealismeku sendiri. Ah kamu pasti tau,saat-saat
apa itu. Sebab kamu pasti tak lupa waktu-waktu tengah malam kita di masjid
pelabuhan itu. Sudah berkali2 bukan? Dan
kau tau itu bukan idealisme kita. Tapi itu keharusan. Salah satu bentuk bakti
kita yang terbentur dengan jenis keta’atan yg lain. Mmh..lagi-lagi ini bukan
hanya tentangmu tapi sekaligus tentang rinduku.
Kau
tau, saat ini aku sedang terpekur di mushola hijau muda kita itu.. tak ada
kucing kesayanganmu disini. Tak ada sahabat-sahabatmu yg melingkar dalam
musyawarah kecil. Tak ada penjual nasi yang jarang kita jajani nasi
bungkusnya. Dan pastinya tak ada dirimu
yang selalu kunanti dengan sungguh2 hanya untuk 1 botol air minum atau bekal
yang rajin sekali kau siapkan dari kosan. Dan akupun memang tak sedang
menunggumu. Dan inipun adalah waktu untuk bershiyam. Ini ramadhan. Tapi Lagi-lagi
aku hanya sedang rindu. Rindu pada sosokmu yg tak kutemukan dimana-mana. Tak
ada yg sepertimu.
Dan
pada ramadhan yg basah ini, inilah ramadhan keduaku tanpamu. Terlalu banyak hal
yang tak bisa kuurai seorang diri. Dan perasaan tak lengkap itu selalu
menjejaki ruangan di kepalaku. Tentang sahur,tarwih dan ifthar bersamamu. Sesak
yang terulang. Masih teringat betapa saat itu aku begitu ketakutan dengan
kepergianmu. Dengan jauhmu. Dengan mimik bodohmu yg tak bisa kusaksikan lagi. Atas
nama apapun perasaan sepi itu selalu tampil menyakitkan bagiku. Tapi, mungkin sudah
seharusnya seperti ini perjalanan ukhuwah kita. Mungkin harus terdefenisi
dengan jarak dan perpisahan. Aku sudah sangat paham dengan ritme persahabatan
di dunia. Ritme yg impas rasanya. Antara bahagia dan sedihnya. Antara menemukan
dan hilangnya. Lagi-lagi. Dunia.fana.
Maka,
diantara rembesan hujan yg menjadi tetes-tetes kesegaran dipucuk2 daun.
Kusimpan rindu ini, dan akan menghamburiku sebagaimana tingkahmu yang
menjengkelkan saat menarik salah satu rantingnya yang tepat berada di atas
kepalaku.. membuatku basah. Tak sekuyup harapanmu memang, tapi, cukup
menggangguku. Sebagaimana rindu ini. Biarlah selalu begitu, setiap kali sang
bening menghuni pucuk-pucuk daun dan rerantingnya. Tak selalu hadir membasahi, memang.. Tapi ia
tak pernah benar-benar berhenti..sekali lagi..
Al-Adaab,selasa
23/07/13
“sudah
2 ramadhan d’..cukup lama ya..? ”
Masya Allah...Terharu. semoga kalian dipertemukan di Jannah-Nya. tempat kembali terindah yang selalu menjadi impian...Insya Allah kelak menjadi NYATA. Terinspirasi. sungguh:)
BalasHapus