spasi



Quorum Kepedihan
By: F.Novianti

Rumpon samudra belum pulih putih
Sepanjang pelangi menahan, pagi tersenyum rimbun
Pada akar dan pohon-pohon tumbuh tumpah
Merah menyapa borneo kian renta.
Dan lubang di telinga nenek, putus
Gelang-gelang perak menunggu himpun

Adakalanya gelegar menyambut pulau hujan
Kudaki lagi salju di ufukmu wijaya
Aku menunggu jaya, tapi mereka semakin hitam
Cendrawasih terpaksa belah, kelam
Pena rakyat menunggu pemuda bersumpah
Untuk sebuah padu setitik satu.
Padahal Pemilik tempat duduk tidak pernah pergi
Untuk apa empuk di bibir demokrasi?
Teringat quorum kepedihan untuk gedung beras yang digembok
Rapat!

Untuk aceh temani aku untuk bisu, sunyi
Keringat ibu bercampur darah bayinya
Hanya pagi yang lama tak kunjung kembali
Tidak, bukan hanya pagi
Barangkali untuk sesuatu yang disebut pertiwi..

Ada juga selebes, bocah di tari religiusitas
Perang untuk hati, pedangnya bulan,bintang,salib

untuk Demokrasi setujuku berpisah
Kita harus pilih bhineka untuk eka
Tepa selira kira-kira mau kita ubah jadi apa?
Kawan diskusi ini belum habis
Bahkan tak putus-pupus
Tak putus-pupus


----------------------------------

Mengapa mata diciptakan
By : F.Novianti

Pernahkah engkau tahu mengapa mata diciptakan?
Ambillah cermin dan pandang..
Adakah warna ketiga selain dua yang ada
Putih atau bukan
Kawan
Sebab kita memang harus sadar
Permainan dunia hanya ada dua layar
Putih atau bukan
Tak ada tempat bagi kemunafikan

Makassar, 2008


Berteman Bumi
By : F.Novianti

Serentetan doa
Menembus Arsy
Perempuan itu kini
Berteman bumi
Menyepi

dalam usang sajadah
sungai-sungai tercipta...

Makassar,2008

 -----------


Puisi dalam sketsa seorang hawa
F.Novianti

Pada siluet perjanjian
Kitab puisi
Ada hawa yang berlari
Menyusuri gurun dalam toples kaca
Matanya mencairkan sejumlah es
Di antartika sajadah merah
Ah Netra..
Mengapa selalu seperti itu
Menancap bagai bilah-bilah tembikar ayahku
Pada sajak yang berputar-putar
Meriah di darah si jelita
Ada kerinduan pada anggukan ibu
Dalam rumah cinta
Yang mengizinkan putri kecilnya
Berjalan sendiri pada sebuah tanah
Yang engkau namakan dunia
Semua ada dalam sketsa
Perempuan kecil dengan pita hijau muda
Yang menjelma menjadi berbait-bait puisi
Dalam dada-dada pujangga

----------------

Merah di Gaza : mengapa?
By :F.Novianti

Nelangsa, serdadu menyemangati nafsu
Puing-puing mencoba berbicara tentang ragu, tapi serdadu terlalu dungu
Ada tanya tentang legalisasi penindasan ini, dari siapa?
Mengapa nurani menguap disini? Sedang ketakutan mengintai, kematian mengejar-ngejar
Kemarin Lukisan merah karya kami tergores lagi
Kanvas kami tak pernah sepi dari warna itu.. Untuk siapa lukisan ini?
Ah.. Sebenarnya, kebenaran milik siapa..? sulit untuk mengakui kekalahan..
Paradoks kemenangan ini juga ternyata hanya bayang-bayang..
Kembali kumengenang, nenek yang tertutup berlembar-lembar kain
Mengapa?bukankah kami tak berminat padanya..?
Ada banyak pertanyaan di Gaza
aku juga tak pernah lupa
tentang beribu peluru kami yang menghuni tubuh bocah bernama Abdullah
Itu karena kami terlalu takut padanya
Tidak! Bukan padanya, tapi pada beribu-ribu kawannya..
Entah dari mana asal bocah-bocah itu..
Ada banyak pertanyaan di Gaza..
Tentang batu-batu yang lebih ganas dari peluru-peluru kami..
Mengapa?
Tentang ribuan bayi yang lahir hampir bersamaan.. Ah.. Mereka tak pernah habis!!
Mengapa?
Di Gaza..
Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. .
Aku harus kembali..
Mungkin…
Jawaban-jawaban itu ada disana..

---------------



ASING

Pria itu bernama keasingan
Ia seperti semilir
Yang bergeming dalam
Bilik-bilik sunyi
Bahkan bumi
enggan melacak jejaknya

Hanya Langit yang mengenalnya



-------------------

Tanya Yang Telah Terjawab

Dalam benak yang bergelayut kusut
Hemisfer rindu ditepi qalbu
Menangis

Namun semua makhluk
Hiruk pikuk, aku tertekuk
Menikmati paradoks hati
Mengapa?

Ada yang  mencoba
Mencari sebab
Padahal Dia begitu dekat!
Lupakah?

Dia bilang
“Hanya dengan mengingatNya”
Hati itu menjadi tenang...

Serta merta
Jiwa ini tersadar dan rapuh
Ternyata aku tak secerdas yang ku sangka
Bahkan aku sangatlah bodoh
Untuk menenangkan diri sendiri
Aku tak mampu

Lalu
Dimana Dia yang dekat itu?
Lupakah Dia padaku?

Atau ini baru setitik pelajaran
Pada makhluk sepongah aku

Atau Dia benar-benar tak mengenaliku lagi
.....................................................................


Puisi yang hilang

Hari ini
Ada puisi yang hilang
Di ubin-ubin hatiku

Entah..
Mungkin puisi telah mambenciku
Karena aku
Tak menyetiainya
...
Isya, 24/02/08



------------------------------------

Berteman Bumi

Serentetan doa
Menembus Arsy
Perempuan itu kini
Berteman bumi
Menyepi

dalam usang sajadah
sungai-sungai tercipta...




--------------------------


Kerinduan Tentang Masa Kecil

Sore ini kotaku berubah jingga
Seperti sore sore yang kemarin
Namun ada sedikit taburan rindu
Dalam kenangan yang menggeliat
Memenuhi kancah  jiwaku

Setitik trauma masa silam
Membawaku merenangi canda-canda yang kesepian
Diawal malam yang murung
Dalam torehan cahaya sang bulan
Dan..
Pada genangan rintihan hujan
Ada kisah yang hendak berlari
Menembus batas kemampuan...

Meski begitu aku tetap rindu
Pada guguran daun
Yang rontok di musim semi pada sisi tempat tidurku
Tak seperti biasanya, memang
Namun engkau akan mengerti jika kita bertemu
Dan kedua hati saling menanyakan kabar
Tentang bintang yang hampir tiada
Dan tentang cericit burung
Yang kehilangan asal-usul dan orang tua



 -----------------------


Serdadu dibalik terali


Malam yang tak bising itu membangunkannya lagi
Dalam gulita, wajahnya bersimbah bening dari netra
Bergegas melintas duka-duka dunia dalam segala pentas
Menghadap Dzat Yang Maha Suci, Mengadu...
Pria Serdadu kini bagai anak kesayangan ibu
Garis hitam ditepi netranya itu berbicara
Pada tembok dan terali yang menemani khusyuk sujudnya
Ia menangis,
Bukan karena tak setuju dengan keputusan-Nya
Saat itu dia telah akrab dengan jeruji-jeruji
Dan tak lama lagi, Pengasingan itu akan berakhir
Serdadu akan menatap mentari lagi

Namun ternyata
Serdadu lebih mencintai kamar sempitnya
Ia tak butuh lagi mentari dengan keindahannya yang fana
Ia tak peduli akan canda-canda dunia yang melelahkannya
Ia Rindu khalwat
Ia rindu sajadah usang yang menemani malam indahnya
Lebih indah dari malam pertama
Keindahannya adalah rahasia
Dan tak akan mampu dirampok oleh penguasa-penguasa yang rakus
Karena keindahan itu ada di dalam dada
Dalam khusyuk...
Dan dalam tangisnya yang mendalam
Penuh rindu..


--------------------------------


Pilar-pilar hamba
f.novianti

Rabb...
Biarkan aku mencintai-Mu
Selamanya..
Rabb...
Izinkan aku mengharap-Mu
Sepanjang usia
Izinkan khaufku
Ada dalam khusyuknya do’a
Hadir dalam senyapnya malam
Bernyata dalam hingar juga pekat


------------------------


Mungkinkah puisi terbaca?

Puisi diatas kertas lusuh
Terlupa dalam lipatan-lipatan waktu
Ia terjaga, menostalgia, rapuh
Dalam dahaga, ia memusuhi waktu
Dengan tinta-tinta keniscayaannya
Ia kembali menyulam ragu

Puisi kini rapuh
Tempatnya dibelenggu dungu
Ia terlupa
Dikenangpun percuma..
Mungkinkah puisi terbaca?



-------------------------------

Bunda, ini adalah cinta

Bunda
Ikhlaskan aku
Untuk mengakrabi peluh
Pada jalan tanpa ujung
Untuk mengakrabi sepi
Di bait-bait sunyi puisi
Untuk menenun api
Dengan airmata
Sebagai benangnya

Sebab ini adalah cinta
Sebab ini adalah cinta


--------------------------------- 

Perempuan dalam puisi

Perempuan selalu indah
Untuk dikasihi juga disakiti
Perempuan juga siluetnya
Membayang-bayang pada puisi
Gentayangan di rongga hati pujangga-pujanga
Meski berbalut nestapa
Perempuan hanya dapat mengatup
Ridha...dalam ketidakberdayaannya...

Perempuan.....
Mengapa selalu indah
Untuk dicintai juga dibenci...
Sebab keperihan
Adalah mahkota
Sakit hati adalah
Lentera dalam bening kaca dimatanya..

Perempuan....
Oh.........
Aku tak terima!!!
Sebab dunia ini gemerlap
Dalam asuhannya...


------------------------------------

AL-AKHFIYAH
: mu
Pada harapan di garis-garis takdirku
Kuingin menyaksikan kebahagiaan
Orang-orang yang hilang dari zaman
Terlupa dalam pena-pena waktu dan sejarah

Bertemu,menanyakan kabar
Berdiskusi tentang malam
Yang acap merenggut mereka dari dunia
Tentang siang yang lelah
menawarkan hidangan penutup dan pembukanya

Ku kenal mereka dengan sebutan
Al-Akhfiyah

Pagi ini aku kembali ingin
Bertemu pria tukang sepatu
Dan memintanya berdo’a untukku.


-----------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar